1. Pendahuluan: Mengapa Angka di Atas Kertas Begitu Penting bagi Planet Kita?
Selama beberapa dekade, aktivitas ekonomi global berjalan dengan membawa “tagihan lingkungan” yang tidak terlihat.
Setiap ton emisi yang dilepaskan ke atmosfer adalah utang ekologis yang kita wariskan ke masa depan tanpa bukti bayar yang jelas.
Bayangkan jika Anda makan di restoran, namun tagihannya tidak pernah datang—hingga suatu saat restoran tersebut bangkrut dan lingkungan sekitar hancur karena beban biaya yang tak terbayar.
Laporan terbaru OECD Effective Carbon Rates 2025 hadir sebagai peta jalan baru untuk menagih “piutang” bumi tersebut.
Melalui metrik yang cerdas, laporan ini bukan sekadar dokumen teknis, ia adalah cermin reflektif yang menyingkap realitas di balik pajak energi dan perdagangan emisi di 79 negara yang mewakili 82% emisi gas rumah kaca global.
Mari kita bedah lima temuan krusial yang menyingkap celah antara ambisi iklim dan realitas ekonomi di lapangan.
Hal 1: Lonjakan Cakupan Harga Karbon (Namun Tetap Meninggalkan Celah Besar)
Satu dekade lalu, instrumen harga karbon mungkin dianggap sebagai eksperimen kebijakan di pinggiran.
Namun, data terbaru menunjukkan bahwa instrumen ini telah bergeser ke arus utama ekonomi global.
Antara tahun 2018 dan 2023, cakupan instrumen harga karbon (pajak karbon dan sistem perdagangan emisi atau ETS) melonjak drastis dari 15% menjadi 27%.
Jika kita menyertakan pajak cukai bahan bakar, total emisi yang tercakup mencapai 44%.
Meskipun pertumbuhan ini memberikan sinyal positif bagi pencapaian net zero, sebagai spesialis kebijakan, saya melihat adanya realitas yang lebih dingin: lebih dari separuh emisi global (56%) masih belum dikenakan harga sama sekali.
Ini adalah celah kebijakan yang signifikan. Pertumbuhan cakupan ini krusial, namun kita masih berada dalam perlombaan melawan waktu untuk menutup lubang tanpa harga tersebut.
“Cakupan instrumen harga karbon, terutama sistem perdagangan emisi (ETS), sedang diadopsi di beberapa negara dan cakupan sektoralnya cenderung meluas.”
Hal 2: Ekspansi Masif China yang Mengubah Peta Persaingan Industri
Salah satu pergeseran paling seismik dalam lanskap karbon global terjadi di Asia.
China, sebagai emiten terbesar di dunia, sedang melakukan langkah yang mengubah peta persaingan industri secara sistemik.
Pada tahun 2025, ekspansi ETS nasional China ke sektor-sektor berat seperti aluminium, semen, dan baja diperkirakan akan meningkatkan cakupan instrumen harga karbon global sebesar 7 poin persentase, membawa total cakupan dunia menjadi sekitar 34%.
Hal yang menarik dari laporan ini adalah detail transisinya: ekspansi ini dimulai dengan kewajiban pelaporan pada tahun 2024 sebelum benar-benar menetapkan harga pada tahun 2025.
Pergeseran ini bukan sekadar upaya menekan angka domestik, melainkan penciptaan standar baru dalam pasar karbon global.
Hal ini akan memaksa industri di seluruh dunia untuk meningkatkan efisiensi produksinya agar tetap kompetitif di mata pasar yang semakin sensitif terhadap jejak karbon.
Hal 3: Fleksibilitas “Berbasis Intensitas”: Kompromi antara Pertumbuhan dan Planet
Ada temuan kontra-intuitif mengenai desain sistem perdagangan emisi (ETS) modern.
Terjadi tren peralihan dari sistem cap-and-trade tradisional (yang menetapkan batas absolut emisi) menuju sistem intensity-based (berbasis intensitas).
Dalam sistem ini, batas emisi ditentukan berdasarkan emisi per unit produksi, bukan pagu tetap.
Data menunjukkan pergeseran tajam: pada tahun 2018, hanya ada 2 dari 20 ETS yang berbasis intensitas.
Namun, pada tahun 2023, angka tersebut melonjak menjadi 12 dari 34 sistem, mencakup 70% emisi di bawah ETS.
Secara ekonomi, sistem ini memberikan “ruang napas” bagi pertumbuhan, jika produksi meningkat, izin emisi pun menyesuaikan.
Namun, secara ekologis, ini menciptakan dilema: sistem ini melindungi pertumbuhan ekonomi tetapi memberikan tingkat kepastian lingkungan yang lebih rendah dibandingkan batas absolut karena total emisi masih bisa meningkat seiring kenaikan output.
Hal 4: Celah “Gesekan Ekonomi” antara Harga Stiker dan Realitas Bayar
Banyak pihak melihat harga karbon di pasar dan mengira itulah yang dibayarkan perusahaan.
Namun, laporan OECD menyingkap rahasia melalui perbedaan antara Effective Marginal Carbon Rate (EMCR) dan Effective Average Carbon Rate (EACR).
EMCR mewakili insentif marjinal untuk mengurangi “ton emisi berikutnya”, sementara EACR menunjukkan biaya total melakukan bisnis setelah memperhitungkan “alokasi gratis”.
Alokasi gratis ini berfungsi sebagai penyangga (buffer) untuk mencegah kebocoran karbon (carbon leakage), situasi di mana perusahaan pindah ke negara dengan aturan iklim yang lebih longgar.
Namun, celah harga ini jugalah yang menjadi titik gesekan ekonomi antara ambisi iklim dan kelangsungan industri.
Berikut adalah angka kunci yang menunjukkan “subsidi terselubung” tersebut:
- Sektor Listrik: Menghadapi harga marjinal (EMCR) sebesar EUR 14, namun harga rata-rata (EACR) yang dibayar turun drastis menjadi hanya EUR 1.26 per ton CO2e karena 91% izin diberikan gratis.
- Sektor Industri: Harga marjinal (EMCR) berada di angka EUR 37, tetapi biaya nyata (EACR) rata-rata hanya sebesar EUR 5.2 per ton CO2e karena 87% izin diberikan gratis.
Hal 5: Ketimpangan Sektoral antara Jalan Raya dan Lahan Pertanian
Laporan ini mengungkap ketidakkonsistenan yang mencolok dalam cara kita mengenakan harga karbon.
Ada beban yang sangat berat di satu sisi, namun keheningan total di sisi lain.
- Transportasi Jalan Raya: Sektor ini memikul harga tertinggi, rata-rata EUR 96 per ton CO2, yang didorong oleh tingginya cukai bahan bakar sebagai cara pemerintah meraup pendapatan sekaligus menekan emisi.
- Pertanian dan Limbah: Di sisi lain, emisi non-CO2 dari pertanian dan limbah hampir tidak tersentuh. Sekitar 97% emisi di sektor ini tidak dikenakan harga karbon sama sekali.
Menghadapi sektor sensitif seperti pertanian adalah tantangan politik yang luar biasa besar.
Namun, kita mulai melihat pengecualian langka seperti inisiatif “A Green Denmark” (En Grøn Danmark) di Denmark, yang mulai berani mengenakan pajak pada emisi pertanian.
Ini adalah preseden penting yang akan menjadi tolok ukur bagi negara-negara lain.
Penutup: Menatap Masa Depan yang “Berwarna” Karbon
Dunia sedang memasuki fase baru di mana karbon menjadi mata uang kebijakan yang tak terelakkan.
Kita melihat kemunculan Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (BCA) dan integrasi teknologi penghapusan gas rumah kaca (GGR) ke dalam ETS sebagai upaya memperdalam pasar karbon.
Lebih jauh lagi, kesepakatan pada COP29 di Baku mengenai Pasal 6.2 dan 6.4 Perjanjian Paris akan memberikan “interoperabilitas” yang dibutuhkan agar pasar karbon internasional dapat beroperasi lintas batas dengan integritas yang lebih tinggi.
Pertanyaan Renungan: Apakah kita sudah benar-benar siap membayar harga yang sebenarnya untuk setiap jejak karbon yang kita tinggalkan, ataukah izin gratis akan terus menjadi ‘subsidi terselubung’ bagi masa lalu kita yang polutif?
Slide: