Salah satu alasan paling mengejutkan di balik ketahanan ekonomi global bukanlah kebijakan fiskal atau pemulihan konsumsi tradisional, melainkan investasi besar-besaran dan pesat di bidang Kecerdasan Buatan (AI) dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Jauh dari sekadar tren teknologi, investasi ini telah menjadi penopang utama bagi permintaan ekonomi secara keseluruhan.
Laporan OECD menyoroti bahwa permintaan yang kuat untuk investasi terkait AI, terutama di Amerika Serikat dan beberapa negara ekonomi Asia seperti Korea, Singapura, Jepang, dan Tionghoa Taipei, telah memberikan dukungan signifikan.
Skala investasi ini sangat besar. Sebagai gambaran, Amerika Serikat sendiri sudah menjadi lokasi bagi 43% dari total kapasitas pusat data global yang terpasang pada tahun 2024.
Kekuatan ini sangat nyata dalam angka perdagangan. Pada kuartal kedua tahun 2025, perdagangan barang “pendukung AI” menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan perdagangan untuk negara-negara G20 dan Asia tertentu. Sebuah peningkatan substansial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Di Amerika Serikat, dampaknya bahkan lebih jelas, yaitu investasi pada peralatan dan perangkat lunak TIK merupakan kontributor kuat bagi pertumbuhan PDB riil pada paruh pertama tahun 2025.
Fakta ini menegaskan bahwa mesin pertumbuhan yang berpusat pada teknologi ini adalah kekuatan yang relatif baru namun sangat kuat yang kini membentuk lanskap makroekonomi global.
Regulasi Mengerem Produktivitas Global
Ketika para ekonom membahas perlambatan produktivitas, diskusi sering berpusat pada inovasi atau investasi.
Namun, laporan OECD mengungkap faktor penghambat yang lebih tersembunyi namun signifikan yaitu lingkungan regulasi yang semakin kompleks dan memberatkan.
Estimasi baru dari OECD menunjukkan bahwa bisnis mendedikasikan sumber daya yang substansial dan terus meningkat hanya untuk mematuhi peraturan, yang mengalihkan mereka dari aktivitas yang lebih produktif.
Statistik yang paling tajam datang dari Amerika Serikat yakni pada tahun 2024.
Perusahaan-perusahaan di AS menghabiskan sumber daya setara dengan 4,25% dari total anggaran gaji mereka hanya untuk memenuhi tuntutan regulasi.
Biaya yang diperkirakan telah mengurangi produktivitas tenaga kerja sebesar 0,5% selama 10 tahun terakhir.
Yang lebih mengkhawatirkan, laporan tersebut menekankan bahwa beban ini membebani prospek perusahaan-perusahaan muda dan calon pendatang baru secara tidak proporsional, karena mereka tidak memiliki skala untuk menanggung biaya tetap yang tinggi dari kepatuhan regulasi.
Hal ini secara efektif menghambat dinamisme ekonomi.
Laporan tersebut merangkum kekhawatiran ini dengan tajam:
“Kekhawatiran utamanya adalah lingkungan regulasi yang terus berkembang telah mengalihkan sumber daya yang langka dari aktivitas yang lebih produktif, dan dengan menaikkan biaya tetap operasional bisnis, hal ini telah membebani prospek perusahaan-perusahaan muda dan calon pendatang baru secara tidak proporsional.”
Aset Kripto dan Perbankan Bayangan Kini Menjadi Risiko Stabilitas Keuangan yang Nyata
Banyak yang mungkin masih menganggap aset kripto sebagai ceruk pasar yang terpisah dari sistem keuangan tradisional.
Namun, laporan OECD dengan jelas menyatakan bahwa lembaga keuangan non-bank (NBFI), yang sering disebut “perbankan bayangan”, dan pasar aset kripto kini telah tumbuh menjadi risiko nyata bagi stabilitas keuangan global.
Sejak krisis keuangan global, NBFI telah berkembang pesat dan semakin terhubung dengan bank-bank tradisional.
Di saat yang sama, pasar aset kripto telah mengalami pertumbuhan eksplosif, mencapai valuasi pasar lebih dari USD 4 triliun pada Oktober 2025, meskipun dengan volatilitas yang sangat tinggi.
Integrasi ini paling terlihat pada stablecoin, yang skala dampaknya kini tidak dapat diabaikan:
“Total nilai pembayaran menggunakan stablecoin melampaui penyedia pembayaran digital tradisional utama pada tahun 2024.”
Namun, yang paling mengejutkan bukanlah volume transaksinya, melainkan mekanisme yang menghubungkannya dengan jantung sistem keuangan global.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa penerbit stablecoin telah menjadi pemegang utama surat utang negara AS (US Treasury bills).
Ini adalah senjata panas yang secara langsung mengikat dunia kripto yang bergejolak dengan aset paling aman di dunia.
Keterkaitan inilah yang menjelaskan mengapa regulator kini tidak lagi memandangnya sebagai fenomena pinggiran, melainkan sebagai sumber potensi risiko sistemik yang memerlukan pengawasan ketat.
Perang Tarif
Narasi media tentang “perang tarif” global sering kali menyederhanakan dinamika yang sangat kompleks.
Laporan OECD menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih bernuansa, dengan perusahaan dan negara melakukan adaptasi strategis terhadap proteksionisme dengan cara-cara yang tidak terduga.
Pertama, ada fenomena “front-loading”. Banyak perusahaan mempercepat produksi dan perdagangan pada awal tahun 2025 sebelum tarif baru diberlakukan.
Tindakan antisipatif ini secara mengejutkan justru mendukung volume perdagangan global yang kuat di awal tahun, menutupi dampak langsung dari kebijakan proteksionis.
Kedua, alih-alih pasrah, perusahaan secara aktif beradaptasi untuk memitigasi dampak tarif.
Berbagai perjanjian perdagangan telah menciptakan mosaik tarif yang rumit, dan perusahaan memanfaatkannya.
Sebagai contoh, tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap perjanjian USMCA (antara AS, Meksiko, dan Kanada) menunjukkan upaya aktif dari para pebisnis. Hasilnya, tarif efektif atas impor dari Kanada (4,8%) dan Meksiko (5,4%) secara signifikan lebih rendah dari yang seharusnya bisa mencapai 12,5% dan 14,8%.
Kompleksitas ini menunjukkan bahwa alih-alih runtuh, perdagangan global beradaptasi dengan cara-cara yang rumit, menciptakan lanskap yang jauh lebih sulit untuk diprediksi daripada sekadar “perang dagang” sederhana.
Mesin Pertumbuhan Bergeser
Secara keseluruhan, laporan OECD melukiskan gambaran paradoks: ekonomi global yang menunjukkan ketangguhan mengejutkan saat ini, namun menghadapi kerapuhan yang signifikan di masa depan.
Proyeksi utama menunjukkan pertumbuhan PDB global akan sedikit melambat dari 3,2% pada tahun 2025 menjadi 2,9% pada tahun 2026, sebelum sedikit pulih.
Prospek ini dianggap rapuh karena beberapa risiko besar yang membayangi.
Peningkatan lebih lanjut dalam hambatan perdagangan dan kerentanan fiskal adalah kekhawatiran utama.
Selain itu, valuasi aset yang tinggi menjadi risiko yang menonjol, terutama di sektor teknologi yang didorong oleh optimisme AI yang sama yang telah menopang pertumbuhan.
Ini menciptakan lingkaran umpan balik yang berbahaya: pendorong pertumbuhan utama kita juga merupakan sumber kerapuhan finansial.
Namun, wawasan yang paling struktural adalah pergeseran mesin pertumbuhan global.
Laporan tersebut menyoroti bahwa negara-negara berkembang di Asia, khususnya Tiongkok dan India, terus menyumbang mayoritas pertumbuhan global.
Sementara ekonomi global telah berhasil melewati badai baru-baru ini lebih baik dari yang diperkirakan, laporan ini memperjelas bahwa jalur ke depan tidak pasti dan semakin bergantung pada kesehatan ekonomi Asia.