Analisis komprehensif tentang siapa yang sah bertindak atas nama Wajib Pajak — dan mengapa perusahaan perlu meninjau ulang struktur kepatuhan pajak internalnya di tahun 2026
Pendahuluan
Salah satu pertanyaan paling mendasar tapi sering diremehkan dalam praktik perpajakan korporat adalah: siapa yang sebenarnya sah bertindak atas nama Wajib Pajak (WP) di hadapan Direktorat Jenderal Pajak (DJP)?
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tapi jawabannya menyentuh persinggungan antara hukum pajak, hukum korporasi, dan teori representasi dalam hukum perdata — dan baru saja mengalami perubahan signifikan lewat terbitnya PMK Nomor 44 Tahun 2026.
Artikel ini membedah Pasal 32 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) secara menyeluruh — mulai dari kerangka konseptual, implikasi praktis untuk struktur organisasi perusahaan, hingga dampak reformasi regulasi terbaru terhadap peran staf pajak internal.

1. Dasar Hukum: Apa Kata Pasal 32 UU KUP
Pasal 32 UU KUP s.t.d.t.d. UU HPP (UU 7/2021) mengatur dua rezim representasi yang berbeda secara fundamental:
| Ketentuan | Isi Pokok |
|---|---|
| Ayat (1) | Wajib Pajak diwakili oleh: (a) pengurus, untuk badan; (b) kurator, untuk badan pailit; (c) orang/badan yang ditugasi pemberesan, untuk badan dalam pembubaran; (d) likuidator, untuk badan dalam likuidasi; (e) salah satu ahli waris/pelaksana wasiat/pengurus harta peninggalan, untuk warisan belum terbagi; (f) wali/pengampu, untuk anak belum dewasa atau orang dalam pengampuan |
| Ayat (2) | Wakil bertanggung jawab secara pribadi dan/atau secara renteng atas pajak terutang, kecuali dapat membuktikan dan meyakinkan DJP bahwa posisinya benar-benar tidak memungkinkan untuk dibebani tanggung jawab tersebut |
| Ayat (3) & (3a) | Wajib Pajak dapat menunjuk kuasa melalui surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan; kuasa harus memiliki kompetensi tertentu |
| Ayat (4) | Definisi “pengurus” diperluas: mencakup siapa pun yang nyata-nyata memiliki wewenang menentukan kebijakan/mengambil keputusan perusahaan (menandatangani kontrak, menandatangani cek, dsb.), sekalipun namanya tidak tercantum dalam akta pendirian maupun akta perubahan — ketentuan ini juga berlaku bagi komisaris dan pemegang saham mayoritas/pengendali |
Regulasi teknis pelaksana: PP 74/2011 (hak dan kewajiban wakil/kuasa secara umum) dan yang paling baru, PMK 44/2026 (khusus soal kuasa, menggantikan PMK 229/PMK.03/2014).
2. Wakil vs Kuasa: Dua Rezim Representasi yang Berbeda Akarnya
Perbedaan Wakil dan Kuasa bukan sekadar soal terminologi — keduanya berakar dari dua doktrin representasi yang berbeda dalam ilmu hukum perdata (vertegenwoordigingsleer):
| Aspek | Wakil (Ps. 32 ayat 1) | Kuasa (Ps. 32 ayat 3) |
|---|---|---|
| Basis teori | Wettelijke vertegenwoordiging — representasi menurut undang-undang | Vrijwillige vertegenwoordiging — representasi sukarela (Ps. 1792 KUHPerdata) |
| Timbul karena | Status hukum tertentu WP (badan hukum, pailit, warisan, ketidakcakapan) | Penunjukan/kehendak WP sendiri |
| Sifat | Otomatis, tidak perlu persetujuan | Fakultatif, perlu surat kuasa khusus |
| Konsekuensi tanggung jawab | Pribadi dan/atau renteng (ayat 2) | Tanggung jawab tetap pada WP; kuasa tidak otomatis menggantikan liabilitas WP |
Struktur ini sebenarnya mereplikasi dikotomi klasik dalam hukum perdata: representasi yang lahir karena hukum (misalnya orang tua terhadap anak, kurator terhadap harta pailit, organ terhadap badan hukum) versus representasi yang lahir dari perjanjian.
Anomali Ayat (2): Ketika Hukum Pajak Menyimpang dari Prinsip Umum
Dalam doktrin representasi klasik, prinsip dasarnya adalah akibat hukum dari perbuatan wakil jatuh ke pihak yang diwakili — bukan ke wakil secara pribadi, selama wakil bertindak dalam batas kewenangannya.
Pasal 32 ayat (2) UU KUP menyimpang dari prinsip ini dengan membebankan tanggung jawab pribadi/renteng ke wakil, bahkan membalik beban pembuktian ke wakil untuk membuktikan dirinya “benar-benar tidak mungkin” dibebani tanggung jawab.
Penyimpangan ini adalah lex specialis yang dijustifikasi oleh fungsi hukum publik: mengamankan penerimaan negara dan mencegah penghindaran pajak melalui manuver struktur hukum (misalnya sengaja membubarkan atau mempailitkan badan untuk lepas dari kewajiban pajak).
Konsepnya mirip piercing the corporate veil dalam hukum korporasi, hanya saja di sini diatur eksplisit oleh undang-undang.
3. Siapa yang Termasuk “Pengurus”? Uji Kewenangan Nyata (De Facto Authority Test)
Definisi “pengurus” di Pasal 32 ayat (4) dirancang luas dan berbasis substansi, bukan formalitas. Ini menimbulkan pertanyaan praktis: bagaimana posisi Manager, Supervisor, dan Staf Pajak dalam struktur organisasi perusahaan?
| Posisi | Status Default | Berpotensi Jadi “Pengurus” Jika… |
|---|---|---|
| Direksi | Wakil (Ps. 32 ayat 1a) — jelas, karena posisinya sebagai organ PT (Ps. 92 & 98 UU PT 40/2007) | Selalu |
| Manager | Grey zone | Memiliki kewenangan final menentukan kebijakan pajak strategis, menandatangani kontrak dengan pihak ketiga, atau otorisasi pembayaran/cek — meski tidak tercantum dalam akta |
| Supervisor | Umumnya bukan pengurus | Jarang — kecuali fakta di lapangan menunjukkan ia benar-benar mengambil keputusan final |
| Staf Pajak | Bukan pengurus | Hampir tidak pernah — perannya administratif/eksekutorial |
Poin krusial: DJP dan Pengadilan Pajak akan melihat substansi kewenangan aktual, bukan sekadar nomenklatur jabatan.
Manager dengan signing authority atau kewenangan pengambilan keputusan strategis berisiko dianggap “pengurus de facto” — sebuah konsep yang analog dengan shadow director dalam hukum korporasi — dan karenanya berpotensi terekspos pada rezim tanggung jawab pribadi/renteng Pasal 32 ayat (2).
Implikasi praktis: perusahaan sebaiknya memiliki Delegation of Authority (DOA) matrix yang jelas dan terdokumentasi, agar batas kewenangan Manager terlihat sebagai delegated authority melalui kuasa formal — bukan kewenangan independen yang bisa ditarik sebagai status “pengurus”.
4. Kenapa Hierarki Organisasi Saja Tidak Cukup
Argumen yang sering muncul: “kan Supervisor dan Staf secara hierarki bekerja atas nama pengurus, kenapa masih perlu surat kuasa khusus?”
Jawabannya terletak pada pembedaan dua rezim hukum yang berbeda:
- Hierarki organisasi mengatur relasi kerja internal — siapa lapor ke siapa, siapa menyetujui apa secara operasional. Ini domain hukum ketenagakerjaan dan kebijakan internal perusahaan.
- Kewenangan representasi hukum mengatur siapa yang sah mengikat WP secara hukum terhadap pihak ketiga (negara). Ini domain yang diatur ketat oleh hukum korporasi dan hukum pajak.
Bahkan Pasal 103 UU PT 40/2007 — yang mengatur hubungan internal perusahaan — menegaskan bahwa karyawan baru bisa bertindak “untuk dan atas nama Perseroan” melakukan perbuatan hukum tertentu jika ada kuasa tertulis dari Direksi.
Prinsip ini juga sejalan dengan pembedaan klasik dalam KUHPerdata antara kuasa umum (Ps. 1795, hanya meliputi perbuatan pengurusan biasa) dan kuasa khusus (Ps. 1796, wajib untuk perbuatan hukum yang berakibat signifikan — seperti penandatanganan SPT, penerimaan SKP, atau pengajuan keberatan).
Ada tiga alasan substantif mengapa mekanisme kuasa khusus tetap diperlukan:
- Kepastian hukum bagi DJP — otoritas pajak butuh cara memverifikasi siapa yang benar-benar berwenang mengikat WP, tanpa bergantung pada klaim informal.
- Kesesuaian dengan doktrin kuasa umum vs khusus — tugas administratif rutin bisa berjalan dengan otoritas kerja biasa, tapi perbuatan hukum yang mengikat memerlukan kuasa khusus.
- Proteksi bagi WP sendiri — surat kuasa khusus justru membatasi ruang lingkup kewenangan staf, mengurangi risiko tindakan ultra vires yang tetap mengikat perusahaan meski di luar kewenangan yang dimaksudkan.
5. Reformasi PMK 44/2026: Staf Pajak Internal Tidak Lagi Otomatis Jadi Kuasa
Perkembangan paling signifikan dan terbaru dalam ruang lingkup Pasal 32 UU KUP adalah terbitnya PMK Nomor 44 Tahun 2026, berlaku sejak 6 Juli 2026, yang mencabut PMK 229/PMK.03/2014.
Apa yang Berubah
Rezim lama mengategorikan kuasa menjadi Konsultan Pajak dan Karyawan Wajib Pajak (karyawan tetap yang aktif menerima penghasilan dari WP) — status kepegawaian semata sudah cukup untuk menjadi kuasa.
PMK 44/2026, mengikuti struktur Pasal 51 ayat (2) PP 50/2022 (turunan UU Cipta Kerja), mengganti total kategorinya menjadi tiga:
- Konsultan Pajak — kompetensi dibuktikan dengan Izin Konsultan Pajak yang masih berlaku
- Pihak Lain — kompetensi dibuktikan dengan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Menteri Keuangan/pejabat yang ditunjuk, serta terdaftar dalam sistem administrasi DJP
- Keluarga — suami/istri/keluarga sedarah/semenda sampai derajat kedua, tidak wajib kompetensi tapi wajib bukti hubungan keluarga
Kategori “karyawan wajib pajak” sebagai jalur tersendiri resmi dihapus.
Masa Transisi
Pasal 16 PMK 44/2026 memberikan masa transisi hingga 31 Desember 2026: seseorang selain konsultan pajak — termasuk staf pajak internal — masih dapat menjadi kuasa apabila memiliki sertifikat brevet pajak, atau ijazah pendidikan formal perpajakan minimal Diploma III dari perguruan tinggi terakreditasi A. Namun, Surat Kuasa Khusus di masa transisi ini wajib dibuat dalam bentuk kertas dan dilampiri dokumen pendukung.
Setelah masa transisi berakhir, staf pajak internal yang ingin tetap berperan sebagai kuasa harus memenuhi syarat sebagai “Pihak Lain” — yaitu memiliki SKT dan terdaftar dalam sistem administrasi DJP, setara dengan standar kompetensi pihak eksternal lainnya.
Ketentuan Pendukung Lain yang Relevan
- Kuasa hanya berlaku untuk 1 orang dan ruang lingkup tertentu sesuai Surat Kuasa Khusus (Pasal 7-8 PMK 44/2026)
- Kuasa tidak dapat melimpahkan kewenangannya ke orang lain, kecuali sebatas penyampaian/penerimaan dokumen administratif
- Penunjukan kuasa tidak mengalihkan tanggung jawab hukum — WP tetap bertanggung jawab penuh atas kewajiban perpajakan yang dikuasakan
- Mantan pegawai Kementerian Keuangan (termasuk eks-DJP) dikenakan masa jeda (cooling-off period) 5 tahun sebelum dapat menjadi kuasa
Rasionale di Balik Perubahan
Beberapa logika kebijakan yang dapat diidentifikasi dari pertimbangan resmi maupun pola regulasi:
- Menutup kesenjangan kompetensi — di rezim lama, syarat kuasa dari kalangan karyawan hanya soal status kepegawaian, bukan kompetensi perpajakan yang terverifikasi, berbeda dengan Konsultan Pajak yang wajib lolos sertifikasi resmi.
- Level playing field — menyamakan standar kompetensi antara kuasa internal dan eksternal, agar tidak ada dua rezim berbeda untuk fungsi representasi yang sama.
- Sinkronisasi dengan UU Cipta Kerja dan PP 50/2022 — PMK ini adalah aturan pelaksana yang menyusul restrukturisasi kategori kuasa di level peraturan pemerintah.
- Independensi dan akuntabilitas — pergeseran dari status kepegawaian (yang inheren memiliki relasi ketergantungan terhadap WP) ke kredensial formal yang terverifikasi negara.
- Dukungan digitalisasi (Coretax) — kredensial formal seperti SKT lebih mudah diintegrasikan ke sistem administrasi digital dibanding status kepegawaian yang bersifat cair dan sulit diverifikasi otomatis.
6. Implikasi Praktis dan Rekomendasi
Bagi perusahaan yang selama ini mengandalkan staf pajak internal sebagai kuasa dalam kepatuhan sehari-hari, PMK 44/2026 menuntut langkah adaptasi konkret:
- Audit internal — identifikasi staf/manager yang berperan sebagai kuasa pajak, dan periksa apakah mereka memenuhi syarat masa transisi (brevet/ijazah D3+ perpajakan).
- Percepat pengurusan SKT — bagi staf yang ingin tetap berperan sebagai kuasa setelah 31 Desember 2026, proses pendaftaran sebagai “Pihak Lain” perlu dimulai sejak dini untuk menghindari kekosongan kewenangan.
- Review Delegation of Authority (DOA) matrix — pastikan batas kewenangan Manager terdokumentasi jelas sebagai kewenangan yang didelegasikan, bukan kewenangan independen yang berisiko ditafsirkan sebagai status “pengurus de facto” di bawah Pasal 32 ayat (4).
- Pertimbangkan model alternatif — bagi fungsi kepatuhan pajak yang kompleks, outsourcing sebagian ke Konsultan Pajak eksternal dapat menjadi opsi untuk memitigasi risiko masa transisi.
Penutup
Pasal 32 UU KUP, meski hanya terdiri dari beberapa ayat, menyimpan kerangka konseptual yang dalam — mulai dari adopsi doktrin representasi hukum perdata klasik, penyimpangan yang disengaja untuk kepentingan fiskal (tanggung jawab pribadi/renteng), hingga pembaruan berkelanjutan mengikuti perkembangan regulasi ketenagakerjaan pajak seperti PMK 44/2026.
Bagi konsultan pajak dan in-house tax team, memahami pasal ini bukan sekadar soal kepatuhan administratif, tapi soal manajemen risiko struktural — siapa yang bertindak, atas dasar apa, dan siapa yang menanggung akibatnya.
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan analisis terhadap teks peraturan dan perkembangan regulasi hingga Juli 2026. Mengingat PMK 44/2026 baru terbit dan implementasi teknisnya (termasuk prosedur pengurusan SKT bagi eks-karyawan) masih dalam tahap sosialisasi, disarankan verifikasi lanjutan terhadap teks resmi PMK 44/2026 dan pembaruan dari DJP/Coretax sebelum digunakan sebagai dasar opini formal kepada klien.